Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget



Khutbah Jumat : Perintah Berpikir


Oleh: Ihsan Nursidik

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Segala puji hanyalah milik Penguasa alam raya, Raja manusia, Tuhan yang Satu, Allah SwT.

Berkat karunia dan Rahmat-Nya, kita masih dapat dipertemukan kembali, di ruang dan waktu yang agung ini.

Salawat beriringkan salam, semoga tercurahkan kepada utusan umat, Nabiyullah Muhammad SAW. Seorang nabi penutup (khatam al-Anbiya) yang menyempurnakan seluruh risalah kenabian dan kerasulan sebelumnya.

Tak lupa, semoga untaian salam tadi beriringan pula kepada sanak keluarganya, kerabat-kerabatnya, sahabat, tabiin dan al-thba’ tabiin-nya. Hingga kelak kepada kita semua selaku pengikut dan hamba Tuhan-Nya yang setia, Amiin ya Rabb al-‘Alamin

Di mimbar yang mulia ini, izinkan khatib untuk menyerukan kalimat-kalimat takwa, khususnya bagi diri khatib sendiri, dan umumnya untuk seluruh jama’ah yang hadir pada sidang Jum’at hari ini. Sebab, hanya dengan takwa kepada-Nyalah, Ridho dan Rahmat-Nya menuntun kita ke Surga-Nya kelak.

Ma’ayiral Mu’minin Rahimakumullah

Berpikir adalah tanda dari kemanusiaan kita. Secara historis kata “berpikir” telah dirumuskan jauh oleh pemikir Yunani Kuno sebagai pengertian manusia yaitu “animal rationale” atau “Binatang yang berpikir”.

Begitupun dalam Islam, tak pelak bahwa kata berpikir di dalam Alquran begitu banyak sekali disinggung. Bahkan hampir dari seruan-seruan keagamaannya mengarah kepada perintah untuk berpikir.

Terdapat berbagai macam istilah berpikir, seperti, ta’qilun (berpikir), tatafakkarun (bertafakur/ merenung), tatadabburun (bertadabur), tafaqqahu (memahami), tadzakkaru (mengingat) dan lain sebagainnya.

Hal ini mengindikasikan bahwa berpikir merupakan bagian dari risalah kenabiaan Muhammad. Mengajak umatnya untuk menjadi manusia yang mampu memberdayakan akalnya untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SwT.

Bahkan, sejak pertama Nabi Muhammad menerima risalah kenabiaan-Nya, Fi’il Amr yang pertama diturunkan sebagai kewajiban, ialah perintah untuk membaca (اقرأ) “bacalah”. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Alaq: 1-5:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٢ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٣ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥

Yang artinya,: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena.  Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” QS. Al-Alaq: 1-5

Jelaslah, bahwa firman pertama ini, secara esensial menjadi jawaban atas huru-hara yang terjadi di kala peradaban Arab jatuh ke dalam lubang kedzaliman yang luar biasa. Jahilliyah menjadi sematan atas penamaan kondisi Jazirah Arab kala itu. Suatu disfungsi dari kemanusiaan yang berpikir.

Hal ini pun menandai bahwa segala bencana dan malapetaka yang hadir di dunia ini diakibatkan oleh perilaku manusia yang enggan untuk berpikir dengan jernih. Yaitu pikiran yang tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Pikiran yang berdasarkan kepada kebenaran (al-Haqq), keadilan (al-Adl) dan kesetaraan (al-musawah) di tengah-tengah umat.

Dampak dari tidak berpikirnya seorang ialah tersesat dari jalan-Nya. Dan oleh sebab kesesatannya itulah kemudian dapat melahirkan bencana dan malapetaka. Bahkan, Alquran memberikan perumpamaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya dan mempertuhankan hawa nafsunya seperti binatang ternak atau lebih buruk. Sebagaimana diterangkan di dalam QS. Al-Furqan ayat 43-44, Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا ٤٣ أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ٤٤

Yang artinya: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” QS. Al-Furqan: 43-44

Penggambaran ini tentunya memberikan indikasi kepada kita, bahwa kesesatan bermula dari keengganan untuk berpikir dengan jernih. Kengganan berpikir semacam ini merupakan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sebenarnnya. Cara berpikir yang diliputi hawa nafsu, bukan diterangi oleh cahaya Allah.

Lebih lanjut, Rasullullah saw. pernah bersabda dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi mengenai karakter orang cerdas (berpikiran jernih). Rasulullah saw. bersabda:

الكَيِّس مَن دَ ان نفيه, وعمل لما بعد الموت, والعاجزمن اتبع نفسه هواها, وتمنى على الله

Yang berarti: “Orang cerdas adalah orang yang senantiasa mengintropeksi diri dan beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedang orang yang lemah akalnya adalah mereka yang hanya mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan (mendapatkan surganya) kepada Allah.” HR. Tirmidz

Pada hadis amat jelaslah, bahwa karakter orang yang berpikiran jernih, selalu melihat celah kesalahannya untuk senantiasa diperbaiki dikemudian hari. Mempersiapkan diri pada konsekuensi-konsekuensi kehidupan setelah mati yaitu diakhirat nanti. Selalu memperhatikan tanggungjawab kehidupannya kelak di hadapan Sang Pencipta Alam.

Berbeda dengan mereka yang tidak berpikir, yang hanya menuruti hawa nafsunya saja. Berangan-angan atas kehidupan di akhirat kelak, namun enggan melaksanakan perintah-Nya dan diliputi oleh segala kemaksiatan.

Maka sangatlah jelas, bahwa berpikir merupakan salah satu syariat pertama yang sangat penting. Syariat Islam yang memiliki konsekuensi hukun fardhu ‘ain, diwajibkan bagi seluruh umat manusia pada umumnya, dan khususnya mereka yang mengaku beriman.

Seyogyanya sebagai seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, haruslah menjadikan aktifitas berpikir sebagai bagian dari menjalankan ibadah kepada Allah SwT. Upaya-upaya dalam merawat, menjaga dan meningkatkan kualitas berpikir seseorang menjadi bagian dari jalan mencapai Ridha-Nya.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِى الْقُرآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Ihsan Nursidik, Guru Ponpes Darul Arqam Garut


sumber : https://suaramuhammadiyah.id/read/perintah-berpikir

Post a Comment

0 Comments